Buku Model Koridor Harimau Sumatera Terintegrasi FOLU Net Sink 2030 di Lanskap Kerumutan

Buku Model Koridor Harimau Sumatera Terintegrasi FOLU Net Sink 2030 di Lanskap Kerumutan berangkat dari kenyataan bahwa krisis ekologis, konflik manusia–satwa, dan meningkatnya risiko bencana lingkungan di Provinsi Riau merupakan hasil akumulasi panjang dari kerusakan lingkungan yang tidak selaras dengan daya dukung lanskap.

Buku ini memotret Lanskap Kerumutan saat ini menghadapi tekanan yang semakin tinggi di seluruh zonanya. Di zona inti, praktik penebangan liar masih berlangsung dan secara langsung mengurangi tutupan hutan alam yang menjadi habitat utama satwa liar, termasuk harimau sumatera. Penyusutan hutan ini berdampak pada menurunnya ketersediaan pakan dan ruang jelajah satwa. Sementara itu, di zona penyangga, deforestasi dan degradasi hutan akibat konversi lahan untuk hutan tanaman industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit telah menggerus keanekaragaman hayati serta mengancam keberlangsungan spesies yang bergantung pada ekosistem hutan.

Tingginya laju alih fungsi tutupan hutan, maraknya kebakaran hutan, serta pembangunan infrastruktur telah menyebabkan fragmentasi habitat yang semakin parah. Jalan, kanal, dan aktivitas industri ekstraktif memutus konektivitas antar kawasan lindung dan memecah bentang alam menjadi fragmen-fragmen kecil yang terisolasi. Kondisi ini melahirkan “habitat pulau”, di mana populasi satwa liar terjebak dalam ruang yang terbatas dan terpisah satu sama lain. Dalam jangka panjang, isolasi subpopulasi tersebut berpotensi menurunkan populasi satwa dan meningkatkan risiko kepunahan lokal.

Dalam konteks tersebut, pembangunan koridor satwa dipandang sebagai salah satu pendekatan strategis untuk menjawab persoalan fragmentasi habitat. Koridor satwa merupakan jalur alami yang menghubungkan habitat-habitat terpisah dan memungkinkan pergerakan satwa liar secara aman antar kawasan. Sebagai jawaban atas persoalan tersebut, buku ini menyajikan hasil riset yang bertujuan merumuskan gambaran ideal koridor satwa, khususnya bagi harimau sumatera, sebagai dasar ilmiah dalam pengelolaan Lanskap Kerumutan.

Kajian ini menelaah perubahan pola pemanfaatan ruang dan penggunaan lahan serta tumpang tindihnya dengan habitat harimau sumatera, menganalisis pola penggunaan habitat dan interaksi harimau dengan aktivitas manusia, serta merumuskan konsep koridor pergerakan satwa melalui pendekatan yang mengintegrasikan aspek ekologi, ekonomi, sosial budaya, dan kebijakan pemerintah. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi dampak fragmentasi habitat terhadap pergerakan dan populasi harimau, mengidentifikasi habitat-habitat penting beserta satwa mangsanya, serta menelaah pola dan tren konflik manusia–harimau yang terjadi di dalam dan sekitar Suaka Margasatwa Kerumutan. Kajian ini disusun berdasarkan pengumpulan dan analisis data spasial, survei lapangan, serta informasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat lokal, pemerintah daerah, perusahaan, dan organisasi non-pemerintah.

Rumusan model koridor ini menggunakan pendekatan restorasi ekosistem, di mana pemulihan konektivitas lanskap dikaitkan secara langsung dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Restorasi hutan dan gambut di Lanskap Kerumutan dipandang sebagai langkah strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan daya serap karbon, sehingga mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030.

Buku ini disusun sebagai rujukan ilmiah dan bahan pertimbangan kebijakan, buku ini ditujukan bagi pemerintah, pengelola kawasan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta sektor swasta. Kehadirannya diharapkan dapat mendorong perubahan pendekatan dari pengelolaan sektoral menuju kolaborasi lintas aktor, guna memastikan keberlanjutan Lanskap Kerumutan dan ruang hidup yang lebih seimbang bagi manusia dan harimau sumatera. Ketika fungsi koridor satwa berjalan secara efektif, diharapkan konflik manusia–satwa dapat dikurangi, keseimbangan populasi harimau sumatera dapat dipulihkan, dan manfaat ekologis tersebut dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Share the Post:

Artikel Terkait

Scroll to Top